Keluarga Bunga

Keluarga Bunga punya rumah kecil tipe 36 di Citayem, Depok. Penguasa di rumah kecil itu bernama Mernissi Bunga Opressia,umurnya 5 tahun lebih dan baru kelas satu SD. Penguasa kecil ini bangun jam lima pagi tiap hari, berangkat sekolah jam 6 pagi, pulang jam 3 siang, lalu bobo jam 7 malam. Di rumah itu tinggal juga dua orang pengasuhnya yaitu Bunda Bunga dan Ayah Bunga. Keduanya siap 24 jam untuk melayani sang penguasa kecil.

Wednesday, September 21, 2005

Sahabat-Sahabat PKI Saya

Di ruang kerjanya yang penuh dengan aneka barang yang bertumpuk disegala sudut, Kolonel Latief membongkar sebuah kardus berisi koleksi foto-foto lusuh para napol PKI yang pernah berada di LP Cipinang. Beberapa foto dipenuhi dengan tanda silang.

Aku bertanya pada Kolonel Latief apa arti tanda silang tersebut. “ Setiap kali ada napol PKI yang dihukum mati atau meninggal dunia di Cipinang sini, saya memberikan coretan silang di foto mereka.” Jadilah koleksi foto sang Kolonel penuh dengan tanda silang. Anehnya pada foto pak Asep Suryaman, Bungkus dan Marsudi juga diberikan tanda silang, padahal ketiganya masih hidup dan ditahan di Cipinang.

Kolonel Latief berkata dengan tawa.’Harusnya dia sudah mati, tapi tidak jadi dieksekusi karena dapat tekanan dari dunia internasional’. Pada atahun l990, Soeharto hendak mengeksekusi Pak Bungkus, Marsudi, dan Asep Suryaman, tiga napol PKI yang sudah hampir 25 tahun dipenjara. Keputusan eksekusi ini betul-betul mengejutkan, karena mereka semua sudah tua dan sakit-sakitan setelah 25 tahun mendekam di penjara.

Setelah mendapatkan tekanan internasional eksekusi tersebut dibatalkan. Namun Kolonel Latief sudah terlanjur memberi tanda silang pada ketiganya. Dengan berkelakar ia berkata ‘saya berkawan dengan hantu.’ Bila ketiganya betul-betul dieksekusi, pastilah pak Latief tidak kan tertawa lebar menceritakan sejarah coretan silang tersebut, seperti raut mukanya yang sedih menceritakan mereka yang betul-betul telah dieksekusi.

Ketika kami masuk ke LP Cipinang masih terdapat lima orang napol yang dituduh sebagai PKI. Tiga orang dari militer yang tersangkut dengan peristiwa penculikan para Jendral yang diangkut ke Lubang Buaya yaitu, Kolonel Latief, Bungkus dan Marsudi. Dari banyak pembicaraan dengan ketiganya, saya mengambil kesan tampaknya mereka lebih merupakan ‘Sukarnois’ ketimbang seorang kader PKI. Ketiganya terlibat dalam kasus Gestok dengan anggapan ingin menyelamatkan kekuasaan konstitusional Bung Karno, bukan dalam kerangka kepentingan PKI.

Untuk itu ketiganya hanya di peralat, itu suatu kemungkinan yang juga harus bisa diterima. Pak Bungkus, yang pernah bertugas sebagai Pengawal Presiden mengatakan bahwa ia paling berkesan dengan kebandelan Megawati yang saat itu masih kecil. “ Coba banyangkan ia ingin bermain badminton di halaman depan istana. Terpaksalah saya sebagai pengawal presiden harus memegangi net atau ikut bermain badminton. Megawati tidak mau dilarang.” Namun dangan pandangan menerawang ia berguman,’ mungkin Megawati sudah tidak ingat lagi, karena waktu itu masih kecil.’

Selain ketiga napol yang berlatar belakang militer juga terdapat dua anggota CC PKI yaitu Pak Asep Suryaman dan Pak Sukatno. Pak Asep seorang yang tenang dan tampak sebagai seorang pemikir. Ia ditangkap ketika sedang membangun basis gerilya di sekitar gunung Merapi dan Merbabu di Jawa Tengah, pada tahun l967. Menurut kisahnya, ia ditangkap karena kurir mereka, yang seorang anak kecil ditangkap dan dipaksa untuk memberitahu persembunyian mereka. Ia divonis hukuman mati, tapi entah mengapa luput dari eksekusi hingga 20 tahun lebih ditahan. Ia merasa memperoleh ‘kesempatan kedua’ untuk hidup ketika eksekusi yang hendak dilakukan pada tahun l990 dibatalkan karena tekanan internasional. ‘Setiap malam setelah pengumuman pemerintah akan mengeksekusi kami, saya menunggu kedatangan tim eksekutor didalam sel. Situasinya begitu mencekam, tapi saya termasuk beruntung karena terlambat dieksekusi lebih dai 20 tahun.’


Kata-katanya bahwa ‘saya termasuk beruntung’ betul-betul mengagetkan saya, karena ia menganggap penantian eksekusi yang panjang bukanlah sebagai hal yang menegangkan dan harus dipikirkan. Selama penantian eksekusi yang tak kunjung datang , ia tetap melakukan hal-hal wajar yagn biasa sehari-hari ia lakukan dipenjara Dan nyatanya, meskipun ia gagal dieksekusi ditahun l990, vonis hukuman matinya tidak dirubah sama sekali.
Tentang pak Sukatno sendiri tidak banyak kami ketahui. Ketika kami masuk ke penjara Cipinang kondisinya sudah sangat parah akibat stroke dan komplikasi penyakit lainnya. Ia hanya berbaring ditempat tidur dirawat oleh kawan-kawan napol PKI dan seorang korvenya. Ia sudah tidak dapat berbicara dan mengenali lingkungan sekitarnya. Rambutnya sudah putih ditumbuhi uban dan badannya kurus kering seperti kulit membalut tulang. Menurut pak Asep kondisinya semakin hari semakin parah. Sehari sebelum hari raya Idul Adha 1997 ia sudah menunjukan tanda-tanda menjelang ajal. Para Napol di Cipinang berdatangan ke sel pak Katno, dan itu adalah terakhir kali kami menemuinya didalam penjara.


Di depan selnya saya menjumpai seorang perwira militer berpakaian lengkap berpangkat Kapten. Menurut Nuku Sulaeman orang tersebut dari Bakorstanas, ia dipanggil oleh pihak LP karena mereka butuh ijin dari militer untuk membawanya kerumah sakit Polri. Akhirnya Pak Katno dibawa ke RS Polri dan meningal dunia disana, tanpa kawan-kawan setianya dari penjara Cipinang.

Kemudian kami mendengar jenazahnya diurus oleh Yayasan Hidup Baru dan dimakamkan di Jakarta. Para napol PKI tampaknya sangat sedih sekali, teutama, mereka tidak dapat berada disamping pak Katno menjelang ajal menjemputnya. Aku sendiri berpendapat kematian telah membebaskan pak Katno dari sakit dan penderitannya yang panjang. Dan kematiannya didalam penjara sekaligus membuktikan telah matinya kemanusiaan ditangan para penguasa Orde Baru.
Di seluruh Indonesia sendiri mnurut laporan Amnesti Internasional masih terdapat 14 orang napol PKI yang sudah tua dan sakit-sakitan dan tersebar dalam berbagai LP di Jakarta, Padang, Semarang, Medan, Ujung Pandang, Kali Sosok dan Pamekasan. Kondisi para napol PKI ini sudah tua-tua dan menderita berbagai penyakit berat. Di Penjara Cipinang sebagai contoh, kolonel Latief sejak tahun l994 terkena Stroke hingga bagian kanan badannya menjadi lumpuh dan tidak bisa berbicara dengan jelas. Hanya dengan tekad dan kesabarannya, ia tetap bertahan mengatasi penyakit yang berat tersebut dengan semangat dan stamina yan masih tersisa di hari tuanya. Pak Asep Suryaman menderita sakit maag dan lever. Pak Bungkus terkena maag dan rematik sementara pak Katno sudah tekena stroke dan hanya berbaring ditempat tidur. Pak Katno lalu meninggal pada hari raya Haji dibulan Maret l997 didalam penjara

Sejak masuk Cipinang para napol PKI dipenjara di blok II D, atau yang disebut dengan blok Eki (Ekstrim Kiri), karena blok ini memang diperuntukan untuk para napol PKI. Pak Asep, pak Bungkus, Pak Marsudi dan Kolonel Latief tinggal sendiri didalam sel masing-masing, dan tiap orang mempuyai korve sendiri. Puluhan tahun dipenjara membuat sel mereka tampak penuh sesak dengan berbagai jenis barang, persis seperti gudang. Untuk mengisi kesibukan harian para napol PKI juga aktif dalam berbagai kegiatan.


Pak Asep Suryaman menjabat sebagai ketua PBNC (Persatuan Badminton Narapidana Cipinang). Setiap Hari Selasa dan Jum’at pagi ia mengkoordinir latihan PBNC di aula Blok IIIE, dibelakang sel para Tapol PRD.

Pak Bungkus sibuk membuka usaha jahit didalam selnya. Para narapidana dan petugas seringkali menjahit, mempermak atau menambal baju dan celananya pada pak Bungkus dengan imbalan tertentu.

Pak Marsudi disibukan dengan kegiatan rohani di Gereja. Ia telah menyerahkan seluruh hidupnya pada Jalan Tuhan Sementara Kolonel Latief sibuk dengan kegiatan di Bidang Kerja (Bidker), menjadi menejer tim sepakbola bloknya, menulis dan memberi kursus bahasa Inggris (berhenti setelah ia terkena stroke).

Sang Kolonel
Ketika para Tapol PRD masuk kepenjara Cipinang kami menemui sang Kolonel sebagai orang yang familiar dan penuh humor. Bayangan sang Kolonel seperti yang digambarkan film G 30 S PKI versi Orde Baru tidak tampak sama sekali. Hampir setiap pagi sang Kolonel datang ke sel kami untuk membangunkan kami atau sekedar menceritakan berita dari BBC dan radio Nederland yang baru ia dengar malam tadi. Aku, yang kebetulan sering bangun paling pagi, mendengarkan semua berita radio yang disampaikan oleh sang kolonel.


Dari semua napol PKI, berbicara dengan sang kolonel yang senang berceita adalah yang paling menyenangkan. Kolonel Latief ditangkap pada bulan Oktober l965 dan di Mahmilubkan tigabelas tahun kemudian yaitu pada tahun l978. Vonis yang diberikan semula adalah hukuman mati, tapi kemudian mendapat Grasi dari Soeharto hukumannya diubah menjadi penjara seumur hidup.

Saat ditangkap, kaki kanan Kolonel latief luka parah terkena bayonet. Kakinya yang luka tersebut tidak diobati tapi didiamkan hingga bernanah dan berbelatung. Ketika diobati, ia menjadi pincang dan harus menggunakan tongkat untuk berjalan, atau sepatu khusus dengan sol yang tebal sebelah. Ia ditahan dalam sel isolasi di Blok N Rutan Salemba. Selama di tahan di sel Isolasi ia memakan apa saja yang bisa dimakan, termasuk cicak, tikus, kecoa dll “Ketika ditahan di Salemba jangan ditanya apa yang kami makan, tapi tanyalah apa saja yang belum kami makan”, katanya. Menjelang vonis Mahmilub ia menulis catatan dengan tulisan tanganya;

“ Aku buat sebuah nyanyian pada waktu akan di adili di Mahkamah Militer Tinggi. Hukuman yang akan dijatuhkan perkiran saya paling tinggi “mati”, paling rendah pun mati.
Aku buat sewaktu dalam keadaan parah kakiku lutut kiri, paha kanan yang dibayonet di balut dengan gibs membengkak dan membusuk sehingga berbau busuk sampai-sampai tahun l966. Bersamaan dengan meninggalnya anak ku tertua “Gatot Waspodo Harjono”. Meninggal tertubruk mobil tentara di “Patung Tani” kaki dan badanku dikerumuni ulat-ulat atau belatung. Aku disel isolasi berat di Blok “N” Penjara Salemba. Di kunci terus menerus/ditutup dobel pintu (doeble door) “Salemba” l0 tahun dari tanggal l Oktober l965 s/d l975.

Bersama Pak Latief aku sibuk memngedit tulisan dia mengenai ‘Serangan Umum Satu Maret l949’ atau yang lebih dikenal dengan peristwa ‘Enam Jam di Yogyakarta.’ Naskah tulisan pak Latief ini mempunyai sejarah yang menakjubkan. Draft tulisan ini sudah ia buat sejak tahun l984 sebagai upayanya untuk meluruskan literatur disekitar peristiwa tersebut. Pada tahun l994 ia menyerahkan draft tersebut pada kawannya seorang mantan napol PKI untuk diketik ulang dan di edit. Namun sampai tahun l996, kawannya tersebut tidak jelas kabar beritanya.
Pak Latief sudah pasrah bahwa naskahnya pastilah hilang. Tiba-tiba saja seseorang yang mengaku dari kerabat kawannya yang mengetik naskah tersebut datang kepanjara membawa naskahnya dan mengatakan bahwa ‘ bapak yang mengetik naskah ini sudah meninggal dunia setahun yang lalu dan meminta agar naskah ini di berikan kepada pak Latief di penjara Cipinang.”


Setelah naskah kembali ketangan pak Latief bencana baru muncul. Suatu hari Kolonel Latief menunjukan naskah tersebut ke pihak LP dan meminta ijin untuk membuat copy dari naskahnya. Pihak LP bukannya memberi ijin tapi malahan menyita naskah dari pak Latief tersebut. Kolonel Latief berang dengan penyitaan tersebut karena ia sudah mendapat surat ijin dari pihak LP untuk menulis naskah tersebut.

Naskah yang disita dikembAlikan setelah pak Latief dapat menunjukan surat ijin untuk menulis naskah tersebut dari Kalapas sebelumnya. Aku diberikan naskah tersebut oleh Pak Latief dan diminta untuk mengetik ulang dan mengeditnya. Setelah aku edit dengan mesin ketik, aku kirim naskah tersebut kepada kawan-kawan JKB di luar penjara untuk diketik ulang dengan komputer.

Dalam literatur sejarah Orde Baru digambarkan bahwa Soeharto lah yang mempunyai ide dan memimpin penyerbuan Serangan Umum Satu Maret di Yogyakarta. Serangan tersebut dilakukan bersamaan dengan pertemuan Dewan Keamanan PBB di New York dengan tujuan untuk membuktikan bawa pemerintah Republik Indonesia yang berdaulat masih ada dan tidak tunduk di bawah agresor Belanda.

Bantahan atas peran Soeharto in pertama kali dilakukan oleh Wertheim, yang mengatakan justru ketika operasi sedang berlangsung Soeharto sedang asyik diwarung Soto. Sementara pak latief sendiri mengatakan bahwa rencana penyerangan tersebut adalah inisiatif dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX, sedangkan Soeharto hanyalah pelaksana lapangan.

Hal lain yang di coba dihilangkan adalah peranan dari Kolonel Latief dalam penyerangan tersebut. Padahal pak Latief sndiri, menurut kisahnya, ikut memimpin pasukan menyerbu kedalam kota Yogya. ‘ Bahkan seorang anak buah saya mati tertembak kepalanya. Soeharto di jaman Revolusi, ternyata sudah merupakan Soeharto yang culas.

Menurut pak Latief, kesatuan pak Harto memiliki beberapa bus rampasan perang yang kemudian di ‘obyek’ kan dengan rute Solo-Yogyakarta. Hasil obyekan tersebut tidak jelas keman larinya. Soeharto juga mengambil beberapa Jeep warisan tentara sekutu yang seharusnya menjadi milik Sri Sulatan Hamengkubuwono IX. Namun dengan akal bulusnya jeep-jeep tersebut diambil alih untuk kesatuan dan keperluan pribadinya.

Tentang terjerumusnya Soeharto dalam hal mengobyekan jabatan dan kesatuannya untuk kepentingan ekonomis menurut dugaan pak Latief mungkin didorong oleh istrinya ibu Tien Soeharto. Ibu Tien ini, sebagai putri keraton sudah sejak lama telibat dalam jual-beli perhiasan. Dan kebanyakan barang-baarng tersebut didapat dari para pedagang Cina. Hoby berdagang ini yang kemudian ditularkan pada Soeharto, anak desa yang introvet berhadapan dengan istrinya yang dari ‘keraton’. Bahkan kontak Soeharto dengan para pedagang Cina, kemungkinan juga didapat dari ibu Tien, karena ibu Tien yang berpengalaman dalam hal urusan dagang dengan orang-orang peranakan Cina dalam jual-beli perhiasan. Ini mungkin dapat menjelaskan bagimana mungkin seorang ‘anak ndeso’ seperti Soeharto dapat mempunyai motif sebagai pedagang.

Di dalam penjara aku juga mendapatkan Copy dari pledoi pak Latief, dalam kondisi sudah mengenaskan, banyak bagian yang sudah tak bisa terbaca lagi. Aku tanya kepada pak Latief dimana pledoi aslinya. “ Yang asli dipinjam oleh si C dan sampai sekarang belum dikembalikan, ‘katanya dengan nada suara meninggi.

Tentang peristiwa Gestok l965 sendiri, Kolonel Latief yakin bahwa Soeharto temasuk orang yang harus bertanggungjawab. Kesaksian Latief ini penting karena, membuktikan bahwa Soeharto adalah orang yang paling diuntungkan dengan pembunuhan para jendral yang menjadi ‘rival’nya dan situasi kaos yang ia ciptakan. Di dalam penjara sendiri Kolonel Latief yakin, Soeharto memunyai ‘plot’ tersendiri setelah mengetahui akan terjadinya penculikan para jendral. Plot itu pada awalnya kurang begitu nampak, namun paska Gestok l965 nyata sekali bahwa plot tersebut bertujuan menggulingkan kekuasaan konstitusional presiden Soekarno dan menjadikan dirinya sebagai penguasa tertinggi di RI.

Soeharto dan Ibu Tien sendiri yang ia ajukan sebagai saksi ternyata ditolak dalam persidangan mahmilub. Membantah keterangan Soeharto bahwa ia ke RS malam menjelang meletusnya Gestok l965 untuk mengecek dan membunuhnya dikatakan dalam kesaksian Kolonel Latief ;

“Dua hari sebelum peristiwa tanggal l Oktober l965, saya beserta keluarga mendatangi ke rumah keluarga Bapak Jendral Soeharto di Jalan Haji Agus Salim, yang waktu itu beliau masih menjabat sebagai panglima Pangkostrad. Di samping acara kekeluargaan saya juga bermaksud: “Menanyakan dengan adanya info Dewan Jendral, sekaligus malaporkan kepada beliau”. Beliau sendiri justru memberitahukan kepada saya:”Bahwa sehari sebelum datang ke rumah beliau, ada seorang bekas anak buahnya berasal dri Yogyakarta bernama Subagiyo, memberitahukan tentang adanya info Dewan Jendral, yan akan mengadakan Coup d’etad terhadap kekuasaan pemerintahan presiden Soekarno...”Yang sebenarnya, bahwa saya pada malam itu di samping memang menengok putranya yang sedang terkena musibah, sekaligus untuk saya laporkan akan adanya gerakan pada besok agi harinya, untuk menggagalkan rencana Coup D’etat dri Dewan Jendral, di mana beliau sudah tahu sebelumnya.”

Setelah menyelesaikan naskah Serangan Umum Satu Maret l949, pak Latief mencoba untuk menulis autobiografinya. Ide ini tidak sempat ia laksanakan karena penyakit stroke menyerang badan sebelah kanannya pada tahun l995. Sejak itu pak Latief lebih banyak berkosentrasi pada pemulihan kesehatannya.

Ketika saya masuk kedalam penjara Cipinang pak Latief membicarakan kembali niatnya untuk membuat autobiorafi, tapi ia tidak bisa menyelesaikannya sendiri, karena keterbatasannya secara fisik. Aku lalu menyangupi untuk membantu pak Latief untuk menulis autobiografinya.
Dalam metode penulisan aku usulkan pada pak Latief agar ia nenulai dari kejadian-kejadian penting yang menyangkut sejarah politik Soeharto misalnya pada masa revolusi dan menjelang meletusnya G 30 S PKI. Selain itu masa-masa tersebut relatif masih banyak yang diingat oleh pak Latief. Metode ini aku usulkan karena sang kolonel tetap memaksa membuat autobiografi secara kronologis, sejak ia lahir, masa kecil, masa remaja, jaman Jepang, Revolusi dan seterusnya.


Rentang waktu yang panjang tersebut, ingatannya yang sudah mulai lemah dan konsisi kesehatannya yang memburuk menjadi pertimbangannku untuk memulai autobiografinya dari tahun-tahun terakhir menjelang G 30 S PKI, karena momentum tersebut sangat penting untuk memahami keterlibatan Soeharto dan juga PKI didalam skenario penculikan tersebut. Namun sang kolonel menunjukan padaku sebuah buku autobiografi yang memmuat riwayah hidup seorang tokoh yang aku lupa namanya sejak ia masih kecil. ‘ Seperti ini kalau menulis autobiopgrafi’ katanya.

Sejak saat itu sang kolonel mulai menulis diatas kertas folio dengan tulisan tangannya. Setelah menulis beberapa lembar tiba-tiba saja pak Latief merasa tak enak badan dan tanganya gemetar bila menulis. Menurut korvenya, pak Latief sering telat tidur karena menulis riwayat hidupnya tersebut.Karena memaksakan diri tersebut akhirnya ia sakit, ‘mungkin masuk angin’, kata sang korve. Terpaksa penulisan dihentikan dan dilanjutkan kembali ketika ia sudah kembali sehat. Aku katakan pada pak Latief, ‘bapak jangan memaksakan diri sampai begadang segala, santai saja, tulis apa yang bapak ingat saja’. Setelah memakan waktu sekitar 4 bulan, kami sudah menyelesaikan draft riwayat hidup sang kolonel hingga kedatangan jaman Jepang. Tebalnya sekitar 70 halaman. Sampai jaman ini sang kolonel mandeg. Aku meminta pak Latief untuk memeriksa draft yang aku ketik dan meminta ia untuk mengedit dan menambahkan data-data baru yang sudah ia ingat kembali.

Para Pembesuk
Keluarga para Napol PKI juga tidak sering berkunjung. Keluarga Pak Asep Suryaman tinggal di Tasikmalaya, Jawa Barat, mereka hanya datang tiap hari-hari besar seperti Lebaran. Tapi cucu pak Asep, seorang mahasiswi cantik yang kuliah di Jakarta sering datang membawakan obat-obatan dan keperluan sehari-hari pak Asep.


Keluarga Pak Bungkus tinggal di Madiun, dan hanya membesuk ke penjara pada hari-haris besar seperti Lebaran. Namun berapa aktif LSM secara reguler mengunjungi pak Bungkus, seperti Maria Pakpahan dari Komite Pembesan Tapol/Napol.Pak Marsudi keluarganya tinggal di Yogyakarata, dan datang membesuk pada hari-hari besar agama seperti Natal atau Paskah. Sementara Kolonel Latief keluarganya tinggal di Surabaya. Cucu sang Kolonel yang tinggal di Jakarta kerap datang kepenjara untuk membawa obat-obatan dan keperluan sang Kolonel.
Namun secara umum para keluarga napol PKI tidak begitu sering membesuk mereka ke penjara.


Setiap tahun sekali pihak ICRC mengorganisir kunjungan resmi keluarga napol PKI kepenjara Cipinang. Pihak ICRC menanggung seluruh biaya transportasi dan akomodasinya. Jarangnya anggota keluarga yang berkunjung, mungkin disengaja, untuk melindungi anak, cucu dan famili mereka dari stigma PKI sehingga tidak mendapatkan kesulitan dalam kehidupan sehari-hari.
Seperti di ketahui Orde Baru memberikan lebel ET (Eks Tapol) kepada seluruh mantan napol PKI dan keluarganya hingga ke anak-cucu. Dengan label yang dicantumkan di KTP ini, persis seperti bintang David yang dikenakan pada kaum Jahudi oleh Hitler, para mantan napol dan keluarganya kehilangan hak-haknya secara sosial, ekonomi dan politik. Mereka menjadi warga negara kelas dua, yang harus diawasi dan berbahaya, meskipun anak cucu yang ketika Gestapu meletus masih bayi atau cucu mereka yang lahir dijaman Orde Baru dan tak tahu menahu tentang masa lalu kakeknya.


Para pembesuk setia para napol PKI di Cipinang adalah rombongan ibu-ibu mantan Napol PKI. Usia mereka sudah tua-tua, sama tuanya dengan para napol PKI di Cipinang. Setiap bulan mereka datang berombongan sekitar 5-l0 orang dengan membawa kebutuhan sehari-hari dan obat-obatan bagi para napol PKI. Tidak lupa mereka membawa pisang goreng, lontong, bakwan, tahu goreng atau kadang-kadang nasi uduk dalam bungkusan daun. Dari para pembesuk ini biasanya mereka mendapat kabar tentang sakitnya ‘ si anu’ atau’ meninggalnya ‘ si anu’.

Paska Soeharto
Nampaknya pembebasan tapol/napol PKI masih belum menemui jalan terang . Pembebasan Sri Bintang Pamungkas, Mochtar Pakpahan, Andi Sjahputra dan Nuku Sulaiman yang dilakukan oleh rejim Habibie hanyalah untuk kebutuhan diplomasi mencairkan pinjaman utang luar negeri dari IMF. Secara politik pemerintahan yang baru tetaplah tak berubah.
Dalam penjelasanya tentang pembebasan tapol/napol pihak pemerintah menyatakan bahwa para tapol/napol yang dibebaskan haruslah tidak termasuk kriteria; terlibat G 30 S PKI; Perjuangan bersenjata; Anti ideologi Pancasila. Dengan kriterai-kriteria yang kental dengan ideologi politik Orba, maka nasib para sahabat-sahabat tua saya di penjara Cipinang semakin tidak pasti. Berbagai kampanye dari Komite Pembebasan tapol/Napol, kelomok Ham, tekanan internasional untuk membebaaskan mereka dengan alasan kemanusiaan tidak mengubah mental ‘perang dingin’ dari para penguasa rejim Habibie.


Apapaun argumentasinya, sudah tidak masuk diakal untuk menganggap para napol PKI sebagai musuh ideologis dari rejim dan membiarkan mereka menderita sakit-sakitan didalam penjara. Dalam salah satu dialog dengan kawan-kawan PRD kami sepakat, bila pembebasan kami datang berupa amnesti, kami akan meminta pemerintah menukarnya dengan pembebasan napol PKI, karena mereka lebih membutuhkannya daripada kami yang masih muda dan segar. ‘ Demi kemanusiaan, kami siap menukar pembebasan kami dengan para Napol PKI bila itu diperkenankan,’ demikian kata Budiman Sudjatmiko. Sementara Xanana Gusmao dalam pertemuan dengan Muladi dan pihak Dirjen Pemasyarakatan selalu mengatakan. ‘ bapak-bapak napol PKI yang tua-tua ini harus segera dibebaskan, semata atas dasar kemanusiaan.’

Meskipun para pejabat rejim Habibie tersebut tidak memberikan jawaban, kami tahu bahwa mereka masih akan memberlakukan kriteria ‘harus tidak terlibat dalam G 30 S PKI ‘ sebagai syarat pemberian amnesti. Dan dengan begitu, makin nyatalah bahwa situasi kemanusiaan di luar penjara belum banyak berubah.


Artikel ini dapat dibaca dalam buku Wilson, " Dunia Di Balik Jeruji: Catatan Perlawanan" (resistbook, Maret 2005)

2 Comments:

At 12:17 am, Blogger KIAI KASUS said...

semoga bahagia

 
At 4:44 pm, Blogger dodi/dodik said...

MUSLIM YANG BAIK ADALAH YANG BAIK KEPADA TETANGGANYA.

 

Post a Comment

<< Home