“Menegakan Demokrasi Partisipatoris dan Sosialisme Partisipatiros”; Tentang Akbayan di Filipina
Perjalanan sejarah Akbayan ( atau Partai Aksi Rakyat/Citizens Action Party) tidak dapat dipisahkan dengan kepeloporan Comunist Party of Philipines (CPP) yang didirikan pada tahun 1968. CPP menganut ideologi Maoisme yang dijaman kelahiran CPP sedang bergerak kearah 'lebih kiri lagi' dengan apa yang disebut "revolusi Budaya". Dalam strategi ini gerakan bersenjata menjadi motor utama untuk melakukan insureksi perebutan kekuasaan melalui apa yang disebut "perang rakyat" desa mengepung kota. Meskipun membangun basis sosial yang kuat dalam menentang kediktatoran, CPP tetap menganggap ' perjuangan bersenjata', tidak dapat di substitusikan oleh gerakan massa utnuk merebut kekuasaan. Sesuatu yang nantinya menjadi awal krisis didialam CPP paska kediktatoran Marcos.
Munculnya kediktatoran Marcos yang otoriter yang didukung AMerika Serikat telah menjadikan CPP menjadi "kekuatan hegemonik" dibarisan depan dan ditengah-tengah rakyat dan perjuangan demokratisasi untuk menentang kediktatoran. Hegemoni politik ini dapat dibuktikan dari keanggotaannya yang luas. Pada awal tahun 1980-an anggota CPP ditaksir berjumlah 35.000 anggota, 25.000 dalam NPA (New People's Army) dan sekitar 1 juta orang menjadi ormas-ormas yang berafiliasi dengan CPP.
Pada tahun 1983 Senator Benigno Aquino, seorang oposan liberal atas kediktatoran, dibunuh di Bandara ketika kembali dari pengasingan politiknya di AS. Pembunuhan ini melahirkan aksi-aksi massa besar menentang pemerintahan Marcos yang berada dibelakang pembunuhan politik ini. Kaum kiri juga memanfatkan momentum kematian tersebut untuk didorong lebih jauh lgi menjadi penentangan atas kediktatoran dengan memunculkan slogan JAJA, (Justice for Aquino, Justice for All). Istri sang Senator ini, Cory Aquino, kemudian hari menjdi presiden pertama Filipina paska kediktatoran.
Pada tahun 1986 People’s Power di berbagai negeri, yang kemudian berpusat di Edsa, kawasan perkantoran di Manila, berhasil memaksa Marcos mundur dari kursi kepresidenan. Bahkan dua orang ‘tangan kanannya’ Menhan Jendral Enrile dan Pangab Jendral Ramos berbalik mendukung People’s Power di saat-saat terakhir. Ramos kemudian menjadi Presiden pasca Cory Aquino.
Kemunduran Marcos, tidak dapat dipungkiri merupakan akibat dari aksi-aksi “ gerakan massa” yang terjadi “di berbagai kota”, dimana kaum kiri yang dipelopori CPP melakukan intervensi dan berhasil mempolitisasi gerakan massa secara massif.
Keberhasilan gerakan massa yang melakukan aksi-aksi di kota-kota membuktikan suatu pengalaman politik baru, bahwa gerakan massa dan aksi-aksi politik di kota menjadi ‘kekuatan nyata’ yang strategis. Sayangnya semua energi ini gagal dipimpin oleh CPP, yang kemudian tetap kaku dengan strategi ‘perang rakyat’nya, gerakan bersenjata ‘desa mengepung kota”.
Paska kediktatoran diadakan Pemilu demokratis pertama dalam demokrasi formal di Filipina. CPP menyatakan menolak pemilu demokratis tersebut dan menyerukan Boikot. Akibatnya ruang demokrasi formal paska kediktatoran dan massa yang diintervensi oleh CPP dalam aski-aksi anti kediktatoran dan berpartisipasi dalam politik electoral kehilangan ‘kepemimpinan politik’. Partai-partai liberal yang berbasiskan personal dan patronase, yang merupakan kelanjutan dari para elit politik dan ekonomi lama, mengisi dan merbut ‘ruang demokrasi formal’ tanpa perlu bersaing dengan kekuatan rakyat yang dipelopori oleh CPP. Menurut Joel Rocamora “ratusanribu orang yang yang teradikalisir oleh CPP dalam menentang kediktatoran gagal dikonsolidasikan oleh CPP”.
AKibat kekeliruan strategi tersebut, didalam CPP lalu muncul tiga faksi utama yang mengkritik kekeliruan CPP dalam merespon ‘politik elektoral’ dan momentum pemilu. Tiga faksi ini lalu menjadi tiga blok Politik yang kemudian menyatakan otonom dari CPP.
Pada tahun 1992 secara resmi CPP mengalami perpecahan yang tak terdamaikan sehinga kini, bahkan makin mengeras. Perpecahan ini jelas membuat CPP kehilangan basis-basis utamanya. Sekitar 30 persen unsur partai yang stategis menyatakan keluar. Di perkotaan ,basis Rizal-Manila, di mana pengorganisiran buruh radikal menjadi basis CPP, 80 persen anggotanya menyatakan keluar. Ini berarti CPP telah kehilangan ‘basis proletariat’ yang sangat signifikan. Basis stategis lainnya yang juga keluar adalah sekretariat organisasi tani’diluar wilayah zone gerilya di pegunungan” yang juga keluar. Bahkan NPA, yang menjadi ‘anak emas’ CPP, juga kena imbas dari perpecahan tersebut. Sementara anggota dan simpatisan CPP lainnya, yang keluar dri CPP dan tidak masuk kedalam ‘blok politik’ yang ada bertebaran sebagai ‘kaum independen’ yang bekerja di LSM, akademisi, peneliti, Media dll. “Kaum independen’ ini dikemudian hari menjadi unsur penting dalam gerakan Akbayan.
Perpecahan tahun 1992 menjadi tidak terhdindari, bukan saja dalam arti perbedaan strategi perjuangan, tapi juga sebagai akibat ‘operasi berdarah’ CPP atas kader-kadernya di awal tahun 1990-an terhadap apa yang oleh CPP sebagai kelompok Rejeksionis didalam partai.
Perpecahan itu melahirkan enam ‘blok politik kiri’, tiga diantaranya adalah gerakan yang tetap mempertahankan gerakan bersenjata. Keenam blok ini lalu mulai membicarakan perlunya alat politik baru di luar CPP. Pada mulanya menurut Joel, sempat terpikir untuk juga menggunakan nama CPP, tapi kemudian ide ini ditanggalkan, sebab alat, ideologi dan strategi politik yang akan di buat sudah berbeda jauh dengan CPP. Bahkan kemudian hari, para aktivis Akbayan ini menjadi target pembunuhan politik CPP dengan menggunakan eksekutor NPA.
Kemunculan AKbayan
Pada tahun 1996 mulai diadakan pembicaran oleh enam blok politik tersebut untuk menciptakan partai politik revolusioner baru diluar CPP. Konsep partai ini lalu disosialisasikan dan dikonsultasikan yang melibatkan lebih dari 3000 orang.
Pendirian Akbayan adalah kesimpulan politik setelah 20 tahun hidup di bawah kediktatoran rejim Marcos dan restorasi demokrasi formal di Filipina pada tahun 1986 melalui gerakan ‘kekuatan rakyat’ (Peoples Power) yang meluas. Demokrasi formal ini terbukti hanya menguntungkan elit ekonomi dan politik lama di Filipina, yang kini mengenakan baju demokrasi (dulu kediktatoran) untuk mempertahnakan hegemoni politik dan ekonominya.. Kekuatan penggerak utama dibalik perjuangan anti kediktatoran, rakyat yang terlibat dan berbagai kelompok progresif—justu menjadi terpinggirkan dalam pengambilan dan implementasi berbagai kebijakan. Untuk meresponnya, gerakan social, serikat buruh, dan berbagai organisasi politik berupaya menentang kebijakan negara melalui loby dan tekanan-tekanan politik.
Diluar dinamisme gerakan di Filipina, institusi formal demokrasi masih dicengkram oleh kaum elit dan orang-orang kaya. Dalam konteks seperti ini ide untuk membangun sebuah alternative, sebuah partai politik kerakyatan mulai tumbuh pertama kali. Berbagai kelompok gerakan social menginginkan untuk ambil bagian dalam proses formal pemerintahan. Akbayan lalu muncul sebagai sebuah upaya untuk melembagakan kekuatan rakyat didalam demokrasi Filipina.
Pembicaraan untuk pembangunan partai sudah dimulai sejak tahun 1994. Diseluruh pelosok negeri, berbagai kelompok demokrasi berkerjasama untuk membentuk konsep dan strategi partai. Asiprasi dari berbagai sector masyarakat seperti buruh, petani, pemuda, perempuan, gay dan lesbian, professional, pekerja migrant, kaum miskin kota—mulai diskusikan dan dikonsolidasikan kedalam berbagai program, sementara struktur adhoc partai mulai dibentuk di Luzon dan Mindanao.
Akbayan, adalah sebuah proyek koalisi dari berbagai blok, kelompok dan individu dari berbagai tradisi kiri dan progresif yang beragam, yang diawali dan tumbuh dalam watak koalisi yang kuat. Akibatnya, partai membawa kekuatan dan kelemahan dari koalisi sekaligus. Pada satu sisi, AKbayan menyediakan ruang yang luas dan menjadi muara dari berbagai perbedaan dan membangun konsensus. Pada sisi lainya, partai menjadi relatif cair dan lambat dalam merespon berbagai tantangan, peluang dan hambatan.
Pada tahun 1998 diadakan Kongres I pendirian Akbayan. Dalam kongres ini diputuskan bahwa Akbayan menjadi ‘alat politik’ kaum revolusioner untuk pertarungan electoral dan mempengaruhi kebijakan pemerintah, terutama ditingkat local. AKbayan juga memutuskan bukan sebuah “ partai ideologi”, tapi sebagai sebuah partai yang berbasiskan pada program dan proyek politik. Seperti kata Joel Rocamora “membikin saluran orang kiri untuk pertarungan electoral dan pemerintahan”.
Meskipun secara ‘formal’ tidak disebutkan, Akbayan menurut Joel Rocamora, mantan ketua Akbayan, secara tegas menegaskan partainya sebagai partai yang membela rakyat miskin, menolak imperialisme AMerika Serikat, dan menolak neo-liberalisme, pro demokrasi partisipatoris dan sosialisme partisipatoris. Karena itu Joel menyatakan “Apakah itu bukan Sosialisme?”. Maksudnya meskipun tidak ada ‘ideologi formal’ yang dicantumklan tapi dalam program, praktek dan keanggotaan (80 persen orng miskin) cita-cita sosialisme secara dinamis dan kreatif diperjuangkan dari bawah dan atas.
Soal ideologi Akbayan menyeruat dalam kongres tahun 2001, ketika anggota partai dari kaum independent, bukan anggota blok politik kiri, yang jumlahnya sudah mencapai 50 persen dari anggota AKbayan membawa perdebatan ideologi AKbayan kedalam Kongres tahun 2001. Akhirnya, dirumuskan bahwa ideologi AKbayan adalah “Demokrasi Partisipatoris dan Sosialisme Partisipatoris.”
Demokrasi Partisipatoris dan Sosialisme Partisipatoris adalah sebuah kritik atas model statis baik atas demokrasi perwakilan dibawah kapitalis maupun sosialisme yang sudah hancur di Eropat Timur. Di bawah kedua model tersebut rakyat secara mendasar telah disingkirkan. Dalam demokrasi perwakilan di Filipina partisipasi rakyat telah dipinggirkan oleh politik elit dan patronase.
Sementara itu, alternative dari model sosialisme lama lebih fokus pada arena negara, memberikan sedikit pemikiran dan bahkan meremehkan pentingya melembagakan proses dan mekanisme partisipasi dan kontrol rakyat dalam lapangan ekonomi, politik dan budaya. Pendiri model negara-negara sosialis bahkan tumbuh mendekati negara yang absolut. Hanya satu partai diijinkan sebagai penghubung antara pemerintah dan rakyat, bahkan memonopoli kebenaran untuk dirinya sendiri, yang berujung pada kediktatoran satu partai. Model ini juga menghasilkan ekonomi komando dimana keuntungan pribadi dan korupsi menjadi mengakar, menciptakan hubungan ororiterian didalam negara, partai dan masyarakat sipil.
Proposal untuk menjadikan demokrasi dan sosialisme dapat menjadi kenyataan sejati dilakukan tidak hanya dengan cara mendemokratiskan negara tapi juga dengan menjamin kekuasan otonom masyarakat sipil dan secara konstan mengikat negara. Ini adalah cara untuk memperkuat karakter demokratis, horizontal dan otonom dalam relasi diantara masyrakat sipil. Ini juga berarti membedayakan individu dalam entitas kolektif.
Perjuangan sosilais adalah sebuah kritik dan gerakan oposisi atas kapitalisme.Sebagai sebuah perjuangan kongkrit untuk melindungi kelas pekerja dan rakyat dan penindasa globalisasi kapitalis dan untuk memukul balik kekuatan pasar bebas serta mendapatkan ruang yang semakin luas bagi kelas pekerja untuk mengontrol. Akbayan memajukan kerangka ekonomi-pasar campuran, dimana sektor social mengikat pasar untuk mengembangkan kekuatan produktif, melindungi pekerja, sector agrarian, dan secara kreatif meluaskan sector-sektor sosial dan memperjuangkan perdagangan didalam pasar global.
Dalam kongres pertama juga diputuskan bahwa keanggotan partai adalah individual dan sukarela. Keangotaan individual ini penting untuk mengetaui secara persis kenangotaan partai. Sebab ada prseden klaim-klaim keanggotaan ormas seringkali tidak obyektif dan dilebih-lebihkan, sehingga partai tidak tahu persis kekuatan dirinya sendiri. Menurut Joel Rocamora AKbayan tidak mengenal konsep keangotaan secara organisasi atau underbouw, sebab diangap kurang sejalan dengan demokrasi partisipatoris. Selain itu pengalaman dengan CPP membuat blok politik yang mendirikan AKbayan sangat mengutamakan pembangunan demokrasi partisipatoris dari basis. “Semua organisasi sektoral dan organisasi komunitas, bebas menentukan sendiri, tanpa bisa disetir oleh para pimpinan AKbayan.” Pengalaman dengan CPP yang sentralis dan Stalinis tampaknya juga membuat blok politik kiri yang ada di Akbayan sangat memajukan proses demokrasi internal di dalam Akbayan. Menurut Joel Rocamora “Semua blok politik yang keluar dari CPP mempunyai akar yang sama yaitu soal demokrasi yang tidak berjalan”.
Kongres juga memutuskan federasi-federasi buruh yang banyak mempunyai keanggotaan di AKbayan diperbolehkan membentuk kaukus buruh didalam partai. Kongres juga memutuskan sepertiga pimpinan partai haruslah perempuan.
Agenda Politik dan Program
Akbayan bertujuan untuk menjadi mesin utama untuk memproyeksikan dan memperjuangkan agenda reformasi yang progresif, yang sampai saat ini masih dipotong dan diingkari oleh pemerintah Filipina.
Pendirian utama Akbayan adalah politik berbasiskan program (program-based politics). Artinya adalah untuk mentransformasikan praktek dominan dalam politik yang berdasarkan pada personalitas dan patronase. Tujuannya adalah untuk memutus tradisi dagang sapi diantara para politisi menjadi sebuah politik partisipatoris yang berdasarkan kebijakan yang rasional.
Dalam analisa AKbayan, kesejahteraan rakyat sudah sejak lama tidak penah diurus oleh para elit yang menduduki kursi pemerintahan untuk mengembangkan kepentingan ekonomisnya. Akbayan berharap melalui partisipasi rakayt dalam pengambilan keputusan, sumber-sumber daya ekonomi diseluruh negeri akan dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat bukan cuma oleh perusahaan-perusahaan besar. Akbayan juga berupaya mengikat pemerintah untuk membuat kebijakan social yang lebih baik yang meliputi reformasi redistributif, penyediaan jasa pelayanan yang mendasar dan jaring pengaman social.
Selain itu, Akbayan juga berupaya memberikan kontribusi dalam perkembangan sistem partai politik yang berdasarkan program dan akuntabilitas, bukan pada oportunisme politik. Mengembangkan sebuah budaya politik dimana rakyat mempunyai kesadaran sejati, responsive dan merdeka.
Strategi
Akbayan mengkombinasikan perjuangan ideologis dan hegemoni cultural, membangun blok melalui reformasi radikal, pengorganisiran dan keanggotaan yang dibangun di komuntias-komunitas local, sub-kelas dan sector serta innstitusi.
Akbayan ingin menciptakan massa yang kritis, ketika kondisi obyektif dan subyektif menguntungkan, partai harus memimpin sebuah lompatan kualitatif dalam perjuangan. Lompatan itu misalnya adalah kemenangan elektoranl yang besar atau memenangkan kursi mayoritas di parlemen, sebuah gerakan massa akan memimpin sebuah perubahan di pemerintahan, dalam refomasi agraria dan gerakan sosial lainnya.
Dalam perjuangan ideologis dan hegemoni budaya AKbayan akan berupaya memenangkan pertempuran wacana di pusat-pusat budaya masyrakat seperti akademi, media, gereja,parlemen dan wacana local atau anak suku dalam.
Dalam perjuangan untuk demokrasi yang sepenuh-penuhnya ( full democracy), keadilan social, emansipasi perempuan, Akbayan berniat untuk membangun sebuah blok reformasi yagn radikal. Akbayan menggunakan tekanan massa dan kampanye ideologis dan mengikat pemerintah atau sektor swasta untuk memberikan perhatian kepada rakyat dan memperlemah kekuaasaan para elit. Ini yang membedakan AKbayan dengan konsep oposisi ekstrem dari partai kiri tradisionil.
Partai Parlementer dan Gerakan Massa
Akbayan mendapatkan kekuatan pokoknya dari gerakan yang teroganisir dari kelas pekerja yang berjuang untuk perubahan radikal dan menantang partai politik tradisionil. Akbayan beraliansi dengan berbagai kekuatan progresif persatuan taktis dengan partai lainnya dari waktu- kewaktu dihindari, dan hanya sebagai pelengkap kekuatan yang bersandar pada basis.Akbayan menyalurkan kerja massa dan gerakan massa sebagai partai electoral.
Akbayan bekerja secara konstan dan membangun sinergi yang kreatif dalam pekerjaan electoral, parlemen dan gerakan massa. Akbayan harus mengembangkan mekanisme spesifik bagi gerakan massa dan electoral serta membuat sebuah aturan yagn terpisah bagi taktik di periode electoral dan non-elektoral.
Dalam kongres I Akbayan, keanggotaan yagn terdaftar berjumlah 14.000 orang. Jumlahnya meningkat pda Kongres II, 2001 menjadi 110.000 orang. Jumlahnya menurun pada Kongres 2003 menjadi 87.000 orang. Penurunan ini karena verifikasi anggota. Dimana anggota ayng sudah tidak aktif tidak dihitung, sehingga dari jumlah yang terdaftar, semuanya adalah kader aktif. Dan hebatnya lagi, 52 persen dari anggota AKbayan dalah perempuan.
Dalam pertarungan elektoral jumlah suara yang didapat AKbayan memang jauh dibandingkan partai utama lainnya, namun terdapat peningkatan jumlah suara yang signifikan dalam pemilu. Dalam pemilu 1998 Akbayan memperoleh 200 ribu suara. Pemilu 2001 jumlahnya meningkat menjadi 400.ribu. Dalam pemilu 2004 jumlah suara mencapai 900.ribu suara. Dukungan suara yang signifikan pada Akbayan mayoritas didapat dari kaum miskin.
Sekarang ini, ada tiga orang anggota parlemen nasional AKbayan, 2 diantaranya dalah perempuan. Jumlah ini sangat kecil dari 236 anggota parlemen yang ada. Sementara anggota parlemen lokal di seluruh negeri dari AKbayan mencapai 300 anggota. Karena itu Joel menyatakan kurang signifikan untuk membuat perubahan dari dalam parlemen. Karena itu ketiganya lebih merupakan jurubicara Akbayan dan gerakan-gerakan sosial di luar Akbayan yang tidak mendapat corong dari anggota parlemen dari partai-partai liberal yang mendominasi. Karena itu legitimasi politik Akbayan bukan didapat melalui ruang parlemen, tapi melalui perjuangan massa dan gerakan sosial di luar parlemen.
Stategi electoral Akbayan mempriroriaskan pertarungan perebutan kekuasaan eksekutif Major (Bupati dan walikota). Pada tahun 2001 Akbayan memberoleh kemenangan di politik local dengan memenangi 20 walikota/bupati. Pada tahun 2004 terdapat 40 walikota terpilih yang dekat dengan AKbayan, 30 diantaranya kemudian menjadi anggota AKbayan. Sehinga AKbayan kini mempunyia 50 orang walikota/bupati. Tapi jumlah ini relative kecil, sebab diseluruh Filipina terdapat 2500 wlikota/bupati. Sementara di level kepala desa, diseluruh negeri Akbayan mempunyai 2.500 kepala desa.
Epilog
Sejarah Akbayan mengajarkan pada gerakan kiri dan revolusioner bahwa metode-metode lama partai kiri yang sektarian dan dogmatis sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi obyektif jaman. Pekerjan politik electoral yang selalu ‘dimarginalkan’ oleh partai ‘kiri ekstrem’ justru menunjukan kelemahan mendasar dari gerakan kiri itu sendiri, “tidak menganggap ruang demokrasi formal sebagai pertarungan politik kongkrit” yang juga harus direbut dan dikuasai oleh kaum kiri dan gerakan rakyat progresif.
Akbayan juga menunjukan bahwa pembentukan partai kiri kerakyatan, tidak lagi bersifat ‘monolit’ seperti partai tipe lama, dimana ‘satu warna kecenderungan ideologis yang mendominasi’ , tapi justru menjadi semacam ‘wadah’ dimana semua faksi, kelompok, dan blok politik kiri yang ada dapat difasilitasi oleh partai tipe baru macam akbayan ini.
Partai yang dapat berfungsi sebagai ‘fasilitator’ berbagai blok kiri ini tampaknya dapat dijembatani pada tahap awal dengan meminggirkan ‘keinginan mendominasi ‘ dari satu blok politik, tapi disubstitusikan dalam kesepakatan ‘proyek politik’ partisipatoris dan program-program yang harus dijalankan.
Hal menarik dari AKbayan dalam perkembanganya adalah banyaknya ‘kaum independen’ di luar anggota blok politik kiri pendiri Akbayan yang jumlahnya lebih dari 50 persen. Kaum indrpenden disini adalah para aktivis kiri dan demokrasi paska kediktatoran yang tidak masuk dalam blok kiri, tapi juga menolak partai-partai liberal yang mendominasi. Kehadiran AKbayan, telah memobilisasi kaum independen ini untuk kembali masuk dalam muara ‘perjuangan partisan’, dalam sebauh partai kiri tipe baru yang kreatif, inovatif dan tidak dogmatis.
Semoga munculnya partai-partai kiri-kerakyatan tipe baru yang inklusif di Indonesia akan memberikan optimisme baru dan berhasil mengambalikan banyak ‘kaum kiri dan progresif ‘ untuk kembali menyatukan kekuatan, baik yang berada di ranah ‘blok politik’ maupun ‘di luar blok politik’.
Wilson
Litbang Praxis
Salemba Tengah, 28 November 2005
Tulisan ini dirangkum dari dokumen resmi AKbayan di http://www.akbayan.org dan diskusi dengan Joel Rocamora, mantan ketua Akbayan di Praxis, Sabtu, 26 November 2005.



